Kiai Ahmad Khoirun Nasihin Pati dan Organisasi Tarekat Jatmi

Kiai Ahmad Khoirun Nasihin Pati dan Organisasi Tarekat Jatmi.
PATI – Perkembangan organisasi Jam’iyyah Ahl al-Thariqah al-Mu’tabarah Indonesia (Jatmi) tidak lepas dari sosok kiai kharismatik, KH Ahmad Khoirun Nasihin (AKN) Marzuqi yang mengasuh Ponpes Thoriqoh Tijaniyah di Dukuh Slempung, Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah.

Kiai Nasihin masuk dalam Jatmi pada 1990. Saat itu, beliau masih berusia 21 tahun.

Meski masih muda, tetapi karomah yang dimiliki membuat Kiai Nasihin disegani. Sebab, beliau sudah menjadi mursyid tarekat sejak berusia 15 tahun.

Pengasuh Ponpes Nurul Furqon, Ngemplak, Pati, Jawa Tengah, KH Ahmad Thoha Ismail mengatakan, Kiai Nasihin merupakan salah satu ulama yang dekat dengan Presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Tak ayal, Soeharto saat itu dikabarkan masuk anggota Jatmi. “Kiai cukup dekat dengan Pak Harto, sehingga dikabarkan bahwa Pak Harto masuk Jatmi,” ungkap Kiai Thoha.

Pada waktu itu, Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang menganut ilmu Kejawen dan memiliki ilmu gaib. Namun, Soeharto sempat menepis anggapan tersebut.

Sebaliknya, Soeharto justru menjawab bila ilmu yang dimiliki sebagai sarana untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Dari sana, Soeharto santer dikabarkan sudah mengikuti tarekat Tijaniyah.

Saat ini, Kiai Nasihin menjabat sebagai Rais Am Jatmi. Pada 2018, agenda muktamar Jatmi dijadwalkan akan berlangsung di Ponpes Thoriqoh Tijaniyah di Pati.

Sebelumnya, muktamar Jatmi pernah digelar di kediaman Kiai Nasihin pada 2003 bersamaan dengan peresmian gedung SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Peran Kiai Nasihin untuk Jatmi sangat besar. Meski beliau memiliki banyak tarekat, tetapi yang diajarkan kepada muridnya adalah Tarekat Tijaniyah,” tutur Kiai Thoha.

Dia menyebut, sejumlah pejabat penting yang masuk Jatmi, di antaranya Akbar Tanjung dan Harmoko. Sementara pejabat yang pernah berkomunikasi dengan Kiai Nasihin, salah satunya SBY, Akbat Tanjung, Amin Rais dan Mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo.

Untuk Muktamar Jatmi pada 2018, Kiai Nasihin sudah menyatakan kesanggupannya untuk dihelat di Ponpes Tijaniyah Pati dengan kalkulasi peserta sekitar seribu orang.

“Mbah Yai sudah menyanggupi seribu peserta. Muktamar Jatmi biasanya dibuka presiden. Muktamar Jatmi juga pernah digelar di Istana saat dijabat Bapak Habibie,” imbuhnya.

Tarekat Tijaniyah sendiri didirikan Abul Abbas Ahmad bin Muhamad At-Tijani di Maroko. Di Indonesia, Jatmi didirikan para kiai sepuh dari Jombang seperti KH Mustain Romli sekitar tahun 1950.

Jatmi terus berkembang dan memiliki banyak pengikut. Sekarang, pengikut tarekat Tijaniyah berasal dari banyak kalangan, dari ulama, kiai, pejabat besar hingga masyarakat umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *